Indo Consulting

Indonesia Consultant Group

Bonus bagaikan angin lalu

Kebetulan teman saya bulan lalu meminjam uang dari saya dan berjanji dalam waktu satu minggu akan dikembalikan. Pada saat itu saya tanya “lho…kok mulai pinjam lagi?” Yah…biasa dia kasih alasan macam-macam. Tapi okelah, karena saya punya cadangan, dan teman baik saya ini perlu dengan senang hati saya meminjamkan.
Lalu, tiba satu minggu teman saya menghubungi saya bahwa belum bisa bayar dan minta saya tunggu tiga hari lagi. Saya menyetujuinya.
Benar bahwa tiga hari kemudian, teman saya menghubungi saya dan mengatakan akan transfer hari ini dan pasti hari ini. Sebab kalau tidak nanti keburu habis dan tidak kebagian. Lalu dia juga bilang “habis langsung bonus aku…”
Langsung saja dia cerita bahwa dia mau berhentikan sopir, mau jual mobil dan macam-macam lagi.
Saya hanya tersenyum saja. Rupanya teman saya yang tahun lalu sudah dipandu untuk restrukturisasi keuangan, ternyata kembali lagi kepada kebiasaan lama…
Memang perlu kedisiplinan untuk mengelola keuangan.

Barangkali Anda Salah Mengelola Uang

Besar kemungkinan Anda salah mengelola uang, jika:

  1. Anda merasa terbebani dengan biaya hidup sehingga tidak ada dana untuk ditabung.
  2. Anggota keluarga Anda memerlukan perawatan intensif dan mahal sehingga Anda harus mencari pinjaman untuk membayarnya.
  3. Anda menginginkan liburan yang layak dan nyaman dan Anda harus menggunakan kartu kredit untuk menikmatinya.
  4. Mobil Anda memerlukan perbaikan yang cukup besar dan Anda mau tidak mau harus membayar biaya perbaikan dengan kartu kredit
  5. Sebagian besar pengeluaran Anda adalah untuk menutup hutang
  6. Orangtua Anda mulai uzur dan membutuhkan bantuan keuangan dari Anda, tetapi Anda tidak dapat memberikannya.

Merepotkan Tetapi Bermanfaat, Kenapa Tidak?

Beberapa kali ketika saya memberikan pelatihan dasar perencanaan keuangan, komentar yang saya dapatkan ketika meminta peserta untuk mulai mencatat pengeluaran macam-macam. Ada yang baru mendengar sudah mengeluh, lalu ada yang mempertanyakan keuntungannya, dan ada juga menunjukkan niatnya tetapi masih bingung.

Memang sulit dan merepotkan, tapi dengan memiliki catatan pengeluaran, paling tidak kita mengetahui aliran uang keluar kita itu kemana saja? Pos mana yang paling besar? Mana yang melebihi batas normal?
Dengan demikian, di bulan berikutnya kita mulai bisa mengendalikan. Inilah sebenarnya dasar perencanaan keuangan.

Ada banyak tools yang ditawarkan, apalagi sekarang sudah era teknologi informasi. Tapi baiklah jika kita mulai dari yang sederhana dulu, alih-alih untuk membiasakan diri saja dulu. Dan perlu dicatat, ini tidak hanya berlaku untuk wanita lho….pria pun sebenarnya perlu melakukan pencatatan.

Jika Anda membutuhkan tools sederhana , saya dapat mengirimkan kepada Anda secara cuma-cuma. Kirimkan saja email ke lynna@indoconsulting.com

Mulailah dan Anda akan merasakan manfaatnya.

Harga Mie, Biskuit dan Roti Segera Naik

Itu judul berita di detik.com. Tapi sepertinya kalau yang naik harga mie, biskuit dan roti pasti tidak terlalu berdampak pada perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. Tapi kalau yang naik harga bahan pokok sepert beras, garam, gula, minyak… wah..pasti bikin heboh masyarakat.

Dikuatirkan pasokan gandum akan terhambat. Sepertinya kita tidak perlu kuatir ya… sebab dengan demikian akan semakin banyak peluang untuk industri makananan berbahan dasar singkong, ubi, sagu dan jagung.
Mas Firmansyah sudah mulai dengan “tela”nya. Yuk kita buka peluang lainnya. Boleh ikut mas Firman, atau mau ciptakan sendiri dari singkong, sagu dan jagung.

Tapi jangan lupa, ada peluang lain yang tak kalah penting yaitu untuk menyediakan pasokan bahan dasar nya.
Jadi jangan sampai kosong. Malu dong…karena tanah di Indonesia masih sangat luas untuk ditanami singkong, tela sagu dan jagung.

Salam entrepreneur

Menabung itu tidak sulit

Membiasakan diri menabung memang harus dimulai sejak dini. Namun jika semasa kecil kita belum terbiasa untuk menabung, belum terlambat kok kalau mau mulai dari sekarang.

Teman-teman sekitar saya sering saya ajak untuk membiasakan diri menabung. Meskipun awalnya mereka bilang bahwa gaji mereka tidak cukup untuk kebutuhan hidup dan tidak ada sisa untuk ditabung.

Memang akan menjadi sulit jika kita menabung dari sisa. Karena bisa dijamin tidak akan pernah ada sisa. Cara mudah untuk menabung adalah pada hari pertama kita mendapatkan uang. Segera setelah anda mendapatkan uang dari mana saja, entah itu dari gaji, proyek, pekerjaan extra… sisihkan barangkali sekitar 5%-20% ke tabungan anda. Menabung adalah langkah awal untuk merencanakan masa depan.

Selamat menabung.

Bakar Kapal

Ini sebuah cerita yang kudapat dari seorang motivator. Ceritanya tentang kehebatan Napoleon Bonaparte yang tidak pernah kalah dalam perang. Sedemikian hebatnya pasukan Napoleon ini begitu menarik untuk dipelajari.

Lalu apa yang membuat superioritas pasukan Napoleon? Ternyata setiap menyerang suatu pulau, saat mendarat, Napoleon menyuruh pasukannya untuk membakar kapalnya. No way to return. Pasukan harus menang, atau kalah dan mati semua. Atas strategi ini, pasukan jadi sangat termotivasi untuk menang, terutama karena mereka tidak ingin mati. Tidak heran pasukannya selalu menang dalam peperangan.

Apa kaitannya strategi perang Napoleon dengan kehidupan modern saat ini? Rupanya banyak pengusaha yang menerapkan strategi yang sama. Dari semula adalah pekerja atau pengusaha biasa-biasa saja, mereka mempertaruhkan segalanya untuk memulai usaha. Istilahnya membakar kapal dan mempertaruhkan segalanya demi usahanya.

Tidak jarang pengusaha yang bakar kapal ini justru lebih cepat sukses, bahkan jauh lebih sukses dari pada pengusaha yang melakoni usahanya dengan cara biasa. Tentu saja demikian karena mereka benar-benar mempertaruhkan segalanya demi usahanya. Hanya ada satu pilihan yang logis, yaitu harus menang dan sukses. Tidak boleh ada kata menyerah dan kalah.

Salam sukses.

Berhitung untuk Masa Depan

Yahh…..hidup sekarang aja sudah sulit, bagaimana bisa berhitung untuk masa depan?

Boleh aja sih berpikir seperti itu… tapi coba direnungkan lagi dengan melihat banyak contoh disekitar kita, mana orang yang serius merencanakan masa depan dan yang memang mau mengalir saja mengikuti arus. Kalau mau lihat contohnya lihat yang sudah usia pensiun… Ada yang enjoy menikmati masa pensiunnya dan banyak juga yang akhirnya jadi sakit-sakitan stress karena ga punya apa-apa.

Eiitt…jangan bilang kalau itu memang nasib…. pleeaazzeee… coba dulu… Kalau bicara level materi sih…oke saya setuju bahwa setiap orang diberi berbeda, tapi pada level kebahagian dan bisa menghidupi masa tuanya sendiri?…menurut saya kita bisa merencanakannya.

Ya udah….sekarang tinggal ngitung aja… Yuk kita mulai:

1. Tentukan dulu anda mau hidup seperti apa pada usia ke-xxx. Usia dimaksud adalah usia harapan hidup anda berhenti di usia berapa… (eiit..!!! lagi-lagi kita abaikan dulu bahwa “hidup dan mati” di tangan Tuhan).. mutlak SETUJU. Tapi biar bagaimanapun anda pasti punya harapan untuk bisa hidup sampai umur kesekian. Nah! umur itu yang saya maksudkan.
2. Sekarang umur anda berapa, kurangkan usia harapan hidup anda dengan umur anda saat ini. Nah…itulah sisa waktu yang kita miliki (menurut ukuran kita…SAH!!)
3. Trus coba pikirkan dan tentukan, sampai usia berapa anda bisa bekerja/menghasilkan uang dari pekerjaan. Lalu hitung berapa tahun anda masih bisa bekerja.
4. Kurangkan sisa waktu dengan anda dengan sisa waktu bekerja. Maka itu adalah waktu dimana anda akan hidup tanpa penghasilan.
5. Lalu, selama anda tidak memiliki penghasilan…anda mau membangun pola hidup seperti apa? Dan berapa biaya setahun yang dibutuhkan untuk pola hidup yang anda inginkan tersebut?
6. Kalikan biaya tersebut dengan waktu yang dihitung pada no 4. Berapa hasilnya?? 200jt?, 500jt?, 1 milyard?… BANYAK YA? Angka itulah yang harus anda miliki ketika anda pensiun atau tidak memiliki penghasilan lagi.

WOW…!!!! Stresss…!!! mikirin yang sekarang aja belum beres…

YA…itulah kenyataan… hitungan itu belum selesai..karena ada tips dan trik yang harus anda lakukan supaya bisa memenuhi angka itu.

Tapi harus dilihat case by case, karena hal itu harus dikaitkan dengan kekayaan yang kita miliki saat ini, dan aspek-aspek lain yang baru bisa diketahui ketika saya bertemu dengan klien saya.

Ora Et La’ bora..

Merencanakan Masa Depan

Pada hari pertama mengajar di setiap semester, khususnya pada mahasiswa baru saya selalu menanyakan “Apa tujuan kalian kuliah?” … jawabannya kebanyakan ngga jelas. Sayang sekali.Namun saya tidak bisa menyalahkan hal ini karena anak-anak muda usia sekolah saat ini terutama di Jakarta, sudah terbiasa dengan kemapanan. Yang paling menyedihkan dari jawaban mereka adalah bahwa ada yang menjawab “Karena terpaksa dan disuruh orang tua..” Padahal saya sendiri berusaha mencari jalan agar saya bisa kuliah dan memenuhi cita-cita saya…

Baik, kembali ke masalah masa depan, pada tulisan sebelumnya saya mendefinisikan masa depan adalah keadaan kita menjelang saat kita meninggalkan dunia ini. Wow!!! seperti apa itu? Tua renta miskin sakit-sakitan, atau Tua tapi masih gesit sehat dan kaya? Pastinya kita milih opsi yang kedua kan?

Lalu, kalau opsi kedua yang menjadi pilihan kita, pertanyaan berikutnya adalah “apakah Anda sudah merencanakan masa depan yang Anda inginkan?” Reaksi atas pertanyaan tersebut tentunya berbeda pada setiap orang tergantung pada usia, tingkat pendapatannya, pola pikirnya, bahkan mungkin pendidikannya. Bahkan jika pertanyaan itu kita lemparkan kepada orang yang sangat religius, jawabannya sudah pasti…”masa depan saya ada di tangan Tuhan” Lalu ada lagi sesuatu yang kita percaya yaitu lahir, jodoh, rejeki dan maut Tuhan yang menentukan.

A..ha..!!! setuju..!!.tapi ingat Tuhan hanya akan menolong hambaNya yang mau berusaha menolong dirinya sendiri. Tuhan tetap ingin kitalah yang aktif mengusahakan apa yang menjadi tujuan kita, sementara kita berdoa memohon bantuan dan ridho dari-Nya.

Ketika saya berbincang-bincang dengan banyak orang tua, saya sering mendapatkan bahwa kebanyakan (berarti tidak semua) orang tua generasi abad 21 bekerja sekuat tenaga untuk menjamin masa depan anak-anak mereka. Apalagi yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, orang tua abad 21 ini menginginkan agar anaknya tidak susah seperti yang mereka alami. Sehingga, satu hal yang terlewatkan dalam perencanaan orangtua modern ini adalah bagaimana mereka menjamin hidup mereka sendiri di masa tuanya yang nota bene bisa kita sebut di masa depannya.

Lagi-lagi budaya kita adalah budaya kekeluargaan. Sehingga tidak jarang masih ada pemikiran para orang tua yang akan menggantungkan masa depannya pada anak-anaknya kelak, karena mereka bekerja saat ini untuk masa depan anaknya. Masalahnya adalah apakah pola budaya ini bisa kita pertahankan selamanya?Pada tahun-tahun mendatang…budaya itu bisa saja berubah total. Orang tua tidak lagi bisa menggantungkan masa depannya atau hidup masa tuanya pada anaknya.

Jadi….mau tidak mau…kita harus berhitung bukan? Bagaimana cara berhitungnya? Kita bahas di tulisan berikutnya ya..

Memahami Masa Depan

Masing-masing kita mempunyai persepsi sendiri tentang masa depan, tergantung dari perspektif apa kita melihatnya. Namun secara umum saya berpendapat bahwa masa depan adalah gambaran keadaan pada beberapa kurun waktu ke depan sebelum kita meninggal.

Jadi kalau kita bertanya pada diri kita sendiri, bagaimanakah masa depanku? Berarti kita sedang memikirkan seperti apakah gambaran tentang kehidupan kita pada beberapa kurun waktu ke depan.

Kita wajib bersyukur jika pertanyaan itu muncul dalam benak kita. karena itu menandakan bahwa kita menyadari bahwa kita harus merencanakan sesuatu. Sebagian besar dari kita, pasti tidak memikirkan situasi yang buruk tentang masa depan kita. Kecuali kita tergolong orang yang mudah putus asa.

Dengan berpikir positif tentang gambaran masa depan yang ingin kita miliki, mau tidak mau pikiran kita akan terarah pada upaya-upaya untuk mencapai gambaran atau impian masa depan tersebut.

Jika kita adalah orang awam bukan seorang rohaniwan, sudah tentu yang pertama menjadi tujuan kita bekerja adalah mengumpulkan kekayaan untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Yang bahaya adalah jika kita tidak tahu apa tujuan kita bekerja atau kita tidak tau bagaimana kita memanfaatkan hasil kerja kita.

Selain dari persoalan tentang keinginan kita di masa depan, kita sebagai manusia biasa tidak bisa menghindar dari siklus kehidupan yaitu lahir, besar, menempuh pendidikan, menikah, memiliki keturunan, menikahkan anak, menjadi tua, kemudian kembali kepada sang pencipta.

Yang patut dipertanyakan adalah apakah kita mengetahui atau mengenali kebutuhan kita di setiap siklis tersebut? atau kita membiarkan semua berjalan dengan sendirinya seperti air mengalir ke dataran yang lebih rendah?

Jika kita sudah mengetahuinya, maka saya bisa pastikan bahwa pastikan bahwa anda sudah mempunyai rencana yang mantap sampai dengan siklus terakhir.

Namun jika kita sudah tahu tetapi belum melakukan rencana yang baik pada setiap siklus, maka mulai dari sekarang buatlah rencana yang baik bagi diri kita sendiri maupun bagi keluarga kita.

Next, kita akan membahas lebih detail tentang bagaimana kita merencanakan setiap siklus kehidupan kita untuk mencapai gambaran tentang masa depan yang kita inginkan.

Jangan Sampai Terjadi pada Anda

Tadi pagi saudara saya menghubungi saya,.minta saya ikut membantu biaya pengobatan Om kami. Dia mengatakan bahwa malam hari dia ditelpon oleh Om kami bahwa Om kami mau ke rumah sakit tetapi tidak punya biaya.

Duh…rasanya miris ya…soalnya Om kami ini dulunya pengusaha yang sukses. Lima tahun belakangan ini, memang beliau mengalami penurunan bahkan sampai pada kebangkrutan usaha. Sayang sekali ya…

Saya menduga bahwa sepertinya beliau tidak terlalu peduli dengan perencanaan keuangan untuk masa tuanya.
Saya menemui hal ini pada beberapa teman yang juga pengusaha. Mereka tidak tertarik ketika diajak berdiskusi tentang perencanaan keuangan pribadi.

Seandainya saja perencanaan keuangan sudah dilakukan sejak dini, barangkali Om saya tidak mengalami kejadian seperti itu.

Jadi teman-teman, mulailah melakukan perencanaan keuangan yang terarah sejak dini. Jangan sampai kita menderita di masa tua kita.

Salam Perencana Keuangan